Pages

15 May 2012

Fenomena Hutang

Hutang merupakan realitas yang tidak bisa dielakan. Hampir tidak ada masyarakat modern yang sama-sekali immune dari pengaruh hutang; yang membedakan barangkali adalam tingkat ketergantungan atau keterjeratan dengan hutang. Sebagian besar ummat Islam juga tidak terlepas dari kondisi ini.
Yang miskin biasanya berhutang untuk membeli kebutuhan pokok akibat kesempitan ekonomi yang mereka alami. Masyakarat yang lebih berada atau menengah berhutang sebagai talangan, karena pendapatan yang diterima habis dipertengahan bulan. Sementara masyarakat yang masuk kategori berada berhutang karena lifestyle.
Perusahaan mempunyai ketergantungan yang lebih besar lagi terhadap hutang, yang dalam istilah business modern dihaluskan menjadi leverage. Perusahaan yang baik memang perusahaan dengan kondisi keuangan yang sehat dan laba yang berterusan. Namun untuk menjadi besar, dengan ekspansi misalnya, perusahaan cenderung lebih diuntungkan kalau berhutang, baik dari sisi insentif pajak maupun kalkulasi manajemen keuangan. Dari sisi biaya investasi sendiri, hutang jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan mengambil dari modal atau laba yang ditahan. Jadi, hutang bagi perusahaan adalah suatu yang baik.
Negara juga mempunyai hubungan dan keterikatan tersendiri dengan hutang. Untuk topik ini mungkin kita akan bahas secara tersendiri.
Pertanyaan yang sering dilontarkan adalah bagaimana caranya keluar dari jebakan atau jeratan hutang? Di setiap kesempatan diskusi ekonomi keuangan modern, terutama keuangan keluarga, isu hutang selalu menjadi topik yang ramai dan menarik banyak perhatian peserta.
Mengapa tidak, di UK saja misalnya, hutang merupakan persoalan yang paling banyak dikeluhkan masyarakat. Citizens Advise Bureaux di UK mencatat, sebesar 31% dari total keluhan yang disampailan sepanjang tahun 2011 merupakan isu sekitar hutang rumah tangga. Jumlah ini mewakili sekitar 8,700 keluhan setiap harinya, terutama tentang ketidakberdayaan masyarakat dalam membayar hutang.
Hasil survey terbaru McKinsey Global Institute menampilkan data yang mencengangkan dan semakin menakutkan. Tingkat hutang penduduk negara-negara maju sudah jauh melampaui GDP nya, atau apa yang mampu diproduksi ekonomi tersebut secara keseluruhan. Rasio hutang UK dan Jepang, misalnya, pada akhir tahun 2011 sudah melewati angka 500% dari GDP, dimana hutang rumah tangga mendekati 100% di UK dan 70% di Jepang.
Masyarakat kita di Indonesia mungkin juga mengalami hal yang sama. Meskipun secara agregat rasio hutang terhadap PDB masih kecil, atau ‘hanya’ sebesar 25%, namun secara nominal angkanya tetap besar dan menyimpan risiko. Yang menjadi kuda hitam adalah nilai tukar Rupiah yang masih sedikit labil. Ketika nilai Rupiah melemah, dan masih sangat mungkin terjadi, rasio hutang kita bisa meningkat 2-3 kali lipat dari tingkat penurunan nilai tukar Rupiah sendiri. Ini disebabkan karena hutang Indonesia masih banyak dalam denominasi Dollar, Yen dan Euro.
Secara umum, hutang merupakan fenomena modern dan sudah menjadi kelaziman. Sayangnya, setiap hari jumlah masyarakat yang secara sukarela memasuki jebakan hutang semakin banyak. Contoh kecil saja, Bank OCBC NISP baru-baru ini mengatakan akan mensasar setidaknya 1 juta pelanggan kartu kredit baru untuk tahun 2012. Kalikan jumlah ini dengan bank-bank yang ada di Indonesia, dan bagikan per-bulan, atau per-harinya. Kita memang sudah terlalu jauh terkena pengaruh hutang, sehingga banyak yang kemudian harus kehilangan harta benda, atau bahkan harga diri.
Hadits Nabi SAW: Berhati-hatilah dalam berhutang, karena hutang itu mendatangkan kegelisahan dimalam hari dan menyebabkan kehinaan di siang hari. (HR Bukhari).
Namun, amat jarang yang ketika akan memulai akad hutang bertanya tentang hukum berhutang yang sebenarnya. Malah lebih banyak lagi yang tidak sempat mengecek syarat-syarat yang dikenakan untuk mengambil hutang. Banyak kasus dimana masyarakat yang akhirnya tanpa sadar terjebak bunga yang sangat tinggi dari rentenir, atau bahkan dari lembaga keuangan formal.***

No comments: